Sunday, April 17, 2016

DESAIN MULTIMEDIA - Menggambar Bentuk

MENGGAMBAR BENTUK

Menggambar bentuk adalah cara mengambar dengan meniru obyek dan mengutamakan kemiripanrupa. Semakin
mendekati kemiripan rupa, berarti gambar bentuk yang dibuat semakin sempurna.Obyek gambar bentuk dapat berupa benda-benda mati, flora, fauna, manusia atau alam benda.

Friday, April 15, 2016

SIMDIG - PENGENALAN FITUR BLENDER (LANJUTAN)

Pengenalan Fitur Blender

Header        : Menu utama Blenderyang terdiri atas File, Add, Render, dan Help.
Viewport     : Tampilan yang terdiri dari objek 3D atas objek lainnya.
Toolbar     : Terdiri atas daftar toolsyang memiliki sifat dinamis menurut objeknya.

Tuesday, April 12, 2016

SIMDIG (Menerapkan Fitur Aplikasi Pengolah Simulasi Visual)

Menerapkan Fitur Aplikasi Pengolah Simulasi Visual

1. Pengenalan Blender dan Instalasi
a. Pengenalan Blender
Blender adalah aplikasi grafis 3D yang dirilis sebagai perangkat lunak bebas (open source) di bawah GNU General Public

Monday, April 11, 2016

SISTEM KOMPUTER - Hirarki dan karakteristik sistem memori

Hirarki dan karakteristik memory

Hirarki memori dalam arsitektur komputer adalah sebuah pedoman yang di lakukan oleh para perancang demi menyeryakan kapasitas, waktu akses

Tuesday, April 5, 2016

SIMDIG - KEGIATAN PASCA PRODUKSI PENGAMBILAN GAMBAR


KEGIATAN PASCA PRODUKSI PENGAMBILAN GAMBAR

Kegiatan pascaproduksi pada dasarnya adalah kegiatan editing. Editing video merupakan proses menyusun dan menata hasil rekaman gambar menjadi satu keutuhan berdasakan naskah.

Monday, April 4, 2016

CONTOH PIDATO HARI KARTINI

anak-anak smk bina bangsa yang mau  pidato dihari kartini, saya anak memberi contohnya :



CONTOH  PIDATO HARI KARTINI I :

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

PITA MAGNETIK dan OPTICAL DISC

Pita magnetik adalah salah satu alat penyimpanan eksternal yang menggunakan pita magnetik yang terbuat dari plastik.

karakteristik pita magnetic :

Sunday, April 3, 2016

Cara Membuat Puisi yang Baik

Kidung Cantik Untuk Sang Pendidik

Selamat senja duhai pendidik dengan senyum fantastik
Selamat menikmati secangkir kopi bersama suasana yang kian sepi
Selamat menyantap potongan – potongan kue salju nan lucu
Malam ini sebut saja aku pengganggu
Pengganggu segala aktifitas malam mu
Pengganggu yang datang tak tau waktu
Duhai bapak ibu yang berilmu...
Jika engkau mau, baca saja rangkaian puisi ditulisan usangku
Isinya lebih dari sekedar cinta
Tapi aku janji tak akan membuat bulir airmatamu jatuh karena tabiatku
Jadi tak perlu engkau siapkan tissue
Tetaplah duduk manis disudut sofa bercorak bunga kamboja
Sembari menyaksikan aku yang bermain dipusara aksara – aksara
Aku tidak bermaksud mengguruimu
Dahulu... dibangku itu...
Engkau menahkodaiku berlayar mangarungi lautan ilmu
Berdayung pena
Bersampan buku
Hingga menepilah aku dilabukan pertamaku
Meninggalkanmu didermaga bersama sejinjing kenangan penuh warna
Berat langkahku teriring airmata yang enggan kering
Memasuki gerbang baru bertajuk perjuangan
Pada perpisahan kala itu, ada semburat senyum bahagia yang tersirat
Juga disertai tangis kehilangan yang melengking
Duhai bapak ibu penegak tiang – tiang bangsa...
Lihatlah aku...
Lihatlah aku yang telah mencoba memaknai janji – janji bakti
Tentang arti perjuangan juga balas budi
Barangkali tak sesuai harapmu
Tapi inilah mampuku...
Mengungkap seuntai haturan terimakasihku lewat kata yang semu
Wahai bapak serta ibu guru...
Terimakasih untuk lilin yang kau nyalakan diruang gelap fikiranku
Terangnya membuat aku jadi tau kemana langkahku pergi dan dimana harusku kembali
Terimakasih untuk segenap sambut lembutmu
Karenanya kudapati ada hangat yang menjalari rangkaian mimpi
Terimakasih untuk seluruh munajat do’a yang engkau panjat diusai sujud sholatmu
Duhai pejuang pemupuk tunas – tunas baru...
Terimakasih telah mengenalkanku pada huruf – huruf unik yang kini menjadi teman untukku ketik
Terimakasih telah mengajariku bagaimana cara menyebut a i u e o dilidah cadelku
Karenanya aku jadi mampu menulis syair manis ini untukmu
Kulihat ada garis lengkung terbuka keatas diraut wajahmu
Mengapa?
Terbuktikan? Aku tidak nakal !
Bapak ibu guru penebar semangat dipenjuru nadi...
Jarum jam terus berputar kekanan dan ini sudah larut
Sepertinya matamu semakin sayu menahan kantuk yang datang merasuk
Tubuhmu mulai layu setelah seharian mengemban kewajiban
Beranjaklah dari sofa empuk itu duhai bapak ibu...
Sandarkan sejenak segala letih dan beban yang menggunung dipundakmu
Aku sudahi saja bincang ringan diantara kita
Antara pendidik dan anak didiknya
Terimakasih atas jamuan pengetahuan yang begitu mengeyangkan
Terimakasih untuk racikan kesabaran yang kau berikan sebagai bingkisan
Aku janji akan mematrinya diliang – liang ingatan
Lantas kupertaruhkan pada kerasnya hidup yang tak berkesudahan
Dekap hangat dariku...
Sehangat sampul yang membaluti buku




Balada Dua Permata

Siang ini kembali kutapakkan jemariku dihamparan tuts – tuts huruf yang berjajar rapi
Fikiranku menerawang lepas menembus batas
Pada bentangan kertas putih kutuangkan kata bernada syair kehidupan
Tentang janji – janji bakti yang kulayangkan teruntuk dua permata hati

Ayah... Ibu... Aku ingin bicara
Mengurai kata menoreh cerita
Malam tadi telah ku khusukkan do’aku diatas sajadah berwarna biru
Derai airmata tumpah ruah mengiringi segala pengharapanku

Ayah...
Aku tau engkau begitu lelah
Menyusuri jalanan, terpanggang gugusan matahari yang maha panas
Luruh bersama debu yang memekati kulit hitammu

Ayah...
Pada guratan diatas garis lengkung matamu kutemui ratusan gelembung – gelembung perjuangan
Basah, pecah, mengalir mengikuti detak nadi
Luruh hingga ujung jemari

Ayah...
Evolusi rambutmu bak ungkapan yang tak bersuara
Membungkam tajam getir yang menghujam
Akan sajak hidup beberapa waktu silam

Memahat kisah bersama ibunda
Ibuku... Pelita hatiku...
Lembut lakumu membuai rindu
Mendendangankan alunan detak jantungmu

Ibuku... Pejuang hidup dan matiku
Pada bening matamu kudapati cahaya berpendar rapi
Menyinari segala penjuru hati
Terang benderang menyibak malam yang sepi

Kudengar ada tangis yang menggema
Membahana memenuhi sudut ruang sederhana
Disana...
Namaku fasih dilafalnya

Ayah dan ibuku... Peneduh segala risauku
Kini usiaku menginjak dewasa
Dan sudah kupaparkan segala mimpiku
Mimpi untuk kalian dua permata hatiku

Jika esok aku telah benar – benar tumbuh menjadi dewasa
Akan ku kuatkan diri untuk berpijak
Agar kalian dapat sejenak lepas dari gunungan beban
Bernafas lega dalam atmosfir

Ayah... Ibu...
Bumi akan terus berputar
Aku akan bangkit dalam semangat yang berkobar
Tegar setegar batu karang

Ayah... Ibu...
Duduklah dirumah
Menikmati secangkir kopi khas buatanku
Umpamakan diri kalian sebagai pasangan baru

Pada bait terakhir disyair usangku
Kuhaturkan sejuta kata terimakasih
Terimakasih atas hantaran menuju lembah tinggi bernama kedamaian
Terimakasih untuk pahit getir yang kalian tempuh untukku


Sedari dulu... Kini hingga nanti...

-Dewi Capriani Gumilang-

Contoh Puisi

Sastra Pendusta
Setidaknya kali ini kamu memang beruntung
Masih tetap baik – baik saja saat emosi tak mampu lagi ku bendung
Sudah berhasilkah kamu menyungkurkanku dikakimu?
Menenggelamkanku dalam rasa yang semu
Sudah puaskah kamu setelah menyelipkanku dalam barisan airmata pilu?
Dalam agenda permainanmu
Kamu begitu pandai menoreh cerita
Seolah kamu makhluk yang sempurna
Dan bodohnya aku meyakini semua
Aku dibutuhkan atau sekedar dimanfaatkan?
Aku baru tau...
Jika bait – bait kata yang kau susun bukan tertuju padaku
Jika aku hanya ada dalam mimpimu, bukan nyatamu
Menangisku tersedu
Bersihkan luka tapi aku tak mampu
Ini sudah cukup !
Ku damba bersanding, tapi kamu malah berpaling
Disini aku menjaga
Dibelakang kamu main gila
Kamu berubah menjadi pengecut
Saat dahiku mengerut dan aku cemberut, kamu memandangku takut
Wajahmu pucat bagai mayat
Tatkala kuberanikan diri untuk mendekat
Namun kamu meloncat melesat cepat
Ada rimbun dosa yang terlukis jelas
Meminta untuk segera dipangkas
Kamu mendesah resah
Mengusir rasa bersalah
Otakku tak mampu lagi berfikir
Sedang airmataku jatuh bergulir
Terimakasih untuk semua goresan yang kamu sematkan

Bersama luka yang tak kan pernah terlupakan
-Dewi Capriani Gumilang-


Jadilah Temanku Untuk Sekedar Berlari


Pada malam saat kau terjaga aku menatapmu dengan seksama
Ditiap tarikan nafasmu kurasakan rindu yang memburu
Bersembunyi malu dibalik mata sayu
Dilengan kiri kau dekap hangat luka terperi
Dilengan kanan kau peluk erat kenangan
Lalu usai perpisahan engkau masih menghuni ingatan
Nyaris sulit dilupakan
Selagi kau lelap, aku bersiasat memeluk tubuhmu hingga kantuk
Atau sekedar kubenarkan rambutmu yang berantakan
Pada hangat sapaku, kudapati dingin sambutmu
Ketika ku genggam melepas cemas
Engkau berlaku lembut tapi melepas
Saat mata ku kerlingkan
Pandangan justru engkau palingkan
Semestinya hari ini kau ku hampiri
Menemaniku kala jalan ku susuri
Aku selalu mencarimu dalam sunyi
Tapi engkau tidak pernah mengkhawatirkanku meski dalam mimpi
Aku tau diri !
Mendekatpun aku tak berani
Biarlah seperti begini
Dan akan tetap ku biarkan seperti ini
Merelakan engkau yang enggan peduli
Membiarkan engkau yang sudah tak mau tau
Yaa... itulah mampuku...

Merapalkan do’a karna bagiku jarak adalah kemilau rindu

-Dewi Capriani Gumilang-



Simfoni Hati Dilembah Kopi
Ada yang saling bersahutan tatkala pagi menghampiri
Adalah nyaringnya dentingan sendok dan gelas kopi
Padanya kutuangkan gula diatas hitamnya yang kelam
Berharap pahitnya akan luruh bersama air yang kuseduh
Lamat – lamat terdengar suaramu saat kopi itu mulai kulumat
Lalu aku bercermin pada bukatnya yang pekat
Menerawang tajam pada genangan kopi paling dalam
Barangkali akan kudapati dirimu yang sedang tenggelam
Hendak kuselamatkan dirimu
Namun liang – liang tenggorokanku kaku
Pada aromanya, kujumpai cerita yang berbeda
Tawa bahagiamu menggema...
Dengan dia !
Lantas aku mundur teratur
Melihat pundaknya engkau rangkul
Padaku kau berjanji tak akan pergi
Tapi padanya kau lingkari cincin dijemari
Setelahnya kau tinggali luka yang terpatri
Pada hati ini...

Dan manis pahitnya berubah menjadi getir asin

-Dewi Capriani Gumilang-